Data dan sumber data

By Rahmat Febrianto On Saturday, November 15, 2008 At 2:15 PM

Tanya:
Apa beda antara data primer dan data sekunder?


Jawab:
Data primer adalah data yang diperoleh si peneliti melalui pengamatan atau wawancara di lapangan. Sementara data sekunder diperoleh dari sumber penyimpanan data sekunder. Data yang diambil dari pustaka, dipesan dari bank data sebuah institusi, ataupun yang diperoleh dari internet bukanlah data primer, melainkan data sekunder.




Tanya:
Dari mana saja sumber data primer itu?


Jawab:
Sumber data primer setidaknya bisa terbagi menjadi tiga: grup fokus, panel, dan dari pelacakan.




Tanya:
Bisakah dijelaskan apa yang dimaksud dengan grup fokus tersebut?


Jawab:
Grup fokus (focus group) ini biasanya adalah satu kelompok yang terdiri dari 8 hingga 10 orang anggota dengan seorang moderator yang memandu diskusi kurang-lebih selama dua jam. Diskusi biasanya tentang sebuah topik, konsep, produk, atau hal lainnya. Anggota grup dipilih didasarkan kepada keahlian mereka sesuai dengan topik yang informasinya dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesan, interpretasi, dan opini responden dalam format diskusi yang bebas, fleksibel. Di sini diharapkan muncul respon yang tidak direncanakan dan spontan yang menggambarkan opini, ide, dan perasaan yang sesungguhnya dari anggota.




Tanya:
Jika saya ingin menggunakan disain pengumpulan data seperti ini, hal-hal apa yang harus saya perhatikan?


Jawab:
Disain ini relatif tidak terlalu mahal untuk dilaksanakan dan data bisa langsung dianalisis. Namun data yang diperoleh hanya bisa data kualitatif, bukan data kuantitatif. Selain itu, anda harus memiliki seorang moderator yang cakap yang bisa mengarahkan diskusi sesuai dengan topik dan informasi yang ingin diperoleh. Ada kalanya anda tidak perlu menempatkan seorang moderator di dalam ruangan dan anda bisa membiarkan semua anggota grup ada di dalam ruangan dan mengamati perilaku mereka atau diskusi mereka dari luar ruangan, misalnya dari cermin dua-arah. Terakhir, jika anda mengharapkan generalisasi hasil, disain ini tidak bisa memberikannya kepada anda karena pendapat grup tidak akan bisa mencerminkan pendapat populasi.




Tanya: Mohon jelaskan pula tentang panel sebagai sumber data primer!


Jawab:
Metoda ini berbeda sedikit dengan grup fokus. Grup fokus hanya melakukan pertemuan pada satu sesi, sementara panel lebih daripada satu sesi. Metoda panel cocok untuk dilakukan jika peneliti ingin melihat efek dari suatu intervensi atau perubahan terhadap responden dalam suatu rentang waktu. Anggota panel dipilih secara acak, berbeda dengan anggota grup fokus yang dipilih berdasarkan keahlian. 


Tanya: 
Seperti apa intervensi yang dimaksud di dalam panel ini? 

Jawab: 
Misalnya anda ingin tahu efek dari suatu iklan terhadap minat beli seseorang. Maka, di dalam disain ini anda berikan kepada mereka iklan produk biskuit dan kemudian anda nilai minat beli mereka setelah itu. Beberapa bulan kemudian anda bisa membentuk lagi sebuah panel dan memberikan kepada mereka iklan produk yang sama tapi dengan rasa yang berbeda dan kemudian menguji kembali minat beli mereka. 


Tanya: 
Jika ada jarak waktu antara studi yang pertama dan yang kedua, apakah saya harus menggunakan anggota panel yang sama ataukah saya boleh menggunakan anggota yang berbeda? 

Jawab: 
Sebenarnya ada dua bentuk panel: statis dan dinamis. Model statis memiliki anggota yang sama sedangkan model dinamis memiliki anggota yang berbeda dari waktu ke waktu setiap kali tahapan penelitian berubah. 


Tanya: 
Kalau demikian mana yang lebih baik? 

Jawab: 
Metoda statis memiliki keunggulan karena tia memberikan ukuran yang baik dan sensitif atas perubahan yang terjadi di antara dua titik waktu. Sedangkan kelemahannya adalah bahwa anggota panel dapat menjadi sangat sensitif dengan perubahan karena wawancara yang tidak berlanjut sehingga pendapat mereka tidak lagi akan mewakili pendapat orang yang ada di dalam populasi. Selain itu anggota juga bisa akan keluar dari panel karena berbagai alasan sehingga menimbulkan bias mortalitas (Catatan: bias mortalitas ini akan dibahas tersendiri.) Sementara, kelemahan dan keunggulan metoda panel dinamis adalah kebalikan panel statis. 


Tanya: 
Jelaskan pula apa yang disebut dengan data pelacakan! 

Jawab: 
Data ini berasal dari sumber-sumber yang tidak melibatkan orang. Misalnya, jika anda ingin mengetahui makanan berpengawet apa saja yang dikonsumsi oleh seseorang selama ia di rumah, anda bisa melakukannya melihat langsung ke dalam tong sampahnya dan mencatat kaleng atau bungkus makanan apa yang ada di dalamnya. Contoh lain, catatan sipil bisa menjadi sumber tentang kelahiran, kematian, dan perkawinan di dalam suatu kota; catatan perusahaan bisa memberikan informasi tentang karyawan perusahaan. 


Tanya: 
Apakah sebuah penelitian hanya menggunakan salah satu dari kedua jenis data (primer dan sekunder) itu ataukah bisa keduanya sekaligus? 

Jawab: 
Sebuah penelitian bisa menggunakan hanya salah satu dari kedua jenis data di atas, pun juga bisa menggunakan keduanya sekaligus di dalam sebuah penelitian. 


Tanya: Lalu apa kriteria sebuah penelitian harus menggunakan jenis data primer atau sekunder? 

Jawab: 
Pemilihan jenis data primer atau sekunder dipengaruhi oleh bagaimana variabel tersebut akan diukur oleh peneliti. Sebagian variabel karena sifatnya hanya bisa diukur dengan melalui observasi atau wawancara, misalnya motivasi. Tinggi rendah motivasi tidak akan bisa diperoleh dari sumber sekunder, melainkan dari wawancara atau observasi terhadap karyawan tersebut. Sedangkan data kinerja keuangan perusahaan tidak perlu dikumpulkan melalui wawancara-walaupun dari sana bisa diperoleh data kinerja keuangan-tapi bisa langsung dengan melihat ke dalam laporan keuangan perusahaan. 


Tanya: 
Jika data ingin dikumpulkan, metoda-metoda apa saja yang bisa digunakan untuk pengumpulan data tersebut, lepas dari data primer atau sekunder? 

Jawab: 
Ada empat metoda pengumpulan data yang bisa digunakan: melalui wawancara, kuesioner, observasi, dan pelacakan. 


Tanya: 
Mohon jelaskan bagaimana pengumpulan data melalui wawancara itu dilakukan dan ada berapa bentuk wawancara yang bisa dipilih! 

Jawab: 
Wawancara adalah proses pengumpulan data dengan cara mendapatkannya langsung kepada responden dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Wawancara ini ada yang terstruktur, tidak terstruktur. Keduanya bisa dilakukan melalui pertemuan langsung antara pewawancara dengan responden atau melalui telpon. 


Tanya: 
Apa perbedaan antara wawancara tidak terstruktur dengan yang terstruktur? Apa yang menjadi pertimbangan jika saya harus memilih salah satu metoda wawancara tersebut?

Jawab: 
Wawancara ini dilakukan jika anda belum memiliki urutan pertanyaan yang harus diajukan kepada responden anda. Tujuan wawancara ini adalah untuk mendapatkan gambaran awal tentang masalah sehingga anda bisa menentukan variabel apa yang harus diselidiki nantinya. Pada tahap ini pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan hanyalah pertanyaan yang bersifat terbuka, yang memberikan jawaban yang menggambarkan persepsi seseorang tentang suatu hal. Karena anda hanya ingin memperoleh gambaran awal tentang suatu hal, maka wawancara ini lebih cocok dilakukan pada tahap awal penelitian anda, ketika anda ingin mengetahui area masalah. Setelah anda tahu isu apa yang harus anda jadikan fokus, baru anda menggunakan wawancara yang terstruktur. Wawancara terstruktur dilakukan jika sejak awal anda sudah tahu informasi apa yang dibutuhkan. Anda harus memiliki sebuah daftar yang memuat pertanyaan-pertanyaan yang telah anda susun sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus memfokus pada faktor-faktor yang muncul pada tahap wawancara tidak terstruktur yang dilakukan sebelumnya. Setiap responden yang anda tanyai akan diajukan pertanyaan yang sama. 


Tanya: 
Adakah teknik pengajuan pertanyaan yang harus diperhatikan dalam berwawancara?

Jawab: 
Pertama, untuk wawancara yang tidak terstruktur, anda harus mengajukan pertanyaan yang mengarahkan pada satu fokus pertanyaan. Misalnya, “Bagaimana perasaan anda bekerja di perusahaan ini”? Kedua, jangan memberikan pertanyaan yang bias yang bisa menyebabkan responden anda terarah pada satu jawaban. Misalnya, anda lebih baik bertanya, “Coba ceritakan tentang pengalaman anda bekerja dengan manajer A”, dan hindari bertanya seperti, “Oh, pasti anda bosan bekerja dengan manajer A”. Ketiga, anda harus memperjelas suatu isu agar responden bisa menangkap pertanyaan dan menjawab sesuai dengan inti pertanyaan. Misalnya, di anda ingin tahu apakah karyawan terganggu dengan kondisi bahwa banyak posisi di dalam perusahaan diisi oleh orang-orang yang dekat dengan direktur walaupun pengalamannya masih kurang, bukannya oleh orang-orang yang berpengalaman dan mengajukan pertanyaan, “Kondisi di perusahaan tidak adil. Ada orang yang menduduki posisi hanya karena ia dekat dengan pimpinan, tidak orang yang cakap di bidangnya”. Anda bisa mengubah kalimatnya menjadi lebih jelas seperti, “Menurut anda apakah memang anda harus mendekati bos anda agar bisa menduduki posisi tertentu seperti orang-orang lain”? Keempat, anda harus bisa membantu responden untuk memahami suatu isu sehingga terhindar dari respon jawaban, “Ya” atau “Tidak” saja ketika anda sebenarnya ingin jawaban yang lebih dari sekadar itu. Kelima, selalulah mencatat, bisa sepanjang wawancara dilakukan atau segera setelah wawancara selesai. Tujuannya adalah agar anda tidak kehilangan jawaban-jawaban penting yang mungkin bisa mengungkap isu lain yang belum teridentifikasi sebelumnya. 


Tanya: 
Wawancara manakah yang lebih baik saya lakukan: tatap-muka atau telpon? 

Jawab: 
Yang perlu anda pertimbangkan adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing metoda. Melalui tatap-muka, anda bisa menyesuaikan pertanyaan, menegaskan pertanyaan, dan menjamin bahwa pertanyaan anda bisa dipahami responden. Anda juga bisa menangkap petunjuk non-verbal dari responden anda ketika ia menjawab pertanyaan. Misalnya, responden bisa saja mengatakan persetujuannya tapi dengan mimik muka yang menunjukkan hal sebaliknya. Kekurangan metoda ini adalah batasan geografis karena anda harus menemui mereka di manapun mereka berada. Jika anda harus meminta orang lain mewawancarai mereka, pelatihan mereka bisa mahal. Terakhir, sebagian responden merasa terganggu dengan identitas mereka ketika berhadapan dengan pewawancara walaupun ada jaminan bahwa identitas mereka tidak akan diungkap. Melalui wawancara telpon anda bisa mewawancarai responden dalam wilayah geografis yang sangat luas dan dalam jangka waktu yang lebih pendek. Responden juga akan merasa lebih nyaman daripada harus bertatap-muka langsung dengan pewawancara. Wawancara telpon ini memiliki kekurangan karena anda tidak bisa menangkap bahasa tubuh responden seperti ketika bertatap-muka. Masalah yang lebih besar adalah jika responden memutuskan wawancara secara tiba-tiba dengan berbagai alasan dan tanpa bisa dicegah oleh pewawancara. 


Tanya: 
Masih adakah hal-hal lain yang bisa menyebabkan bias hasil pada berwawancara? 

Jawab: 
Banyak hal lain yang bisa menimbulkan bias. Di antaranya, kesibukan responden, suasana hati mereka, respon mereka terhadap isu-isu sensitif, kepribadian mereka, kalimat pembuka wawancara, dan nada suara pewawancara. Ketika anda memilih untuk mewawancarai melalui telpon dan mengandalkan buku telpon sebagai sumber pemilihan sampel responden, sebagian orang mungkin tidak lagi ada di alamat yang tertera di buku dan ada sebagian orang tidak terdaftar di dalam buku yang bisa jadi lebih kompeten menjawab pertanyaan anda. 


Tanya: 
Apakah yang dimaksud dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner itu? 

Jawab: 
Kuesioner adalah sebuah set pertanyaan yang telah disusun dan responden menggunakannya untuk mencatat jawabannya. Biasanya jawaban-jawaban atas pertanyaan ada dalam bentuk alternatif-alternatif jawaban. 


Tanya: 
Ada berapa jenis metoda penyampaian kuesioner? 

Jawab: 
Setidaknya ada tiga metoda penyampaian kuesioner yaitu kuesioner yang diantar sendiri, kuesioner yang dikirim melalui pos atau jasa kurir, dan yang dikirim secara elektronis. 


Tanya: 
Apa maksud dari kuesioner yang diantar sendiri itu? 

Jawab: 
Jika responden anda berada di dalam wilayah yang relatif tidak jauh dari lokasi anda, dan anda memiliki sumber daya untuk menyampaikan kuesioner tersebut ke responden anda, maka sebaiknya metoda ini yang dipilih. Penggunaan metoda ini akan bisa menghemat waktu respon karena anda bisa langsung berhubungan dengan responden anda dan memperoleh jawaban darinya. Responden juga bisa langsung menanyakan pertanyaan atau poin lain yang meragukan. 


Tanya: 
Lalu apa bedanya metoda ini dengan wawancara? Bukankah anda juga akan mengajukan pertanyaan dan berhadapan langsung dengan responden? 

Jawab: 
Metoda kuesioner lebih murah dibandingkan dengan wawancara karena anda tidak perlu melatih orang secara khusus untuk bisa melakukan wawancara. Waktu yang anda butuhkan untuk mengumpulkan seluruh jawaban dari satu orang juga lebih singkat dibandingkan dengan berwawancara. 


Tanya: 
Terangkan juga apa yang dimaksud dengan kuesioner yang dikirim lewat pos atau kurir itu!

Jawab: 
Metoda ini hanya berbeda dari cara pendistribusian kuesioner ke responden. Hal ini dipilih karena biasanya kuesioner harus disebar di wilayah yang lebih luas sehingga jika diantar sendiri akan memakan waktu yang panjang dan biaya yang besar. Ada kalanya responden berasal dari seluruh negara. 


Tanya: 
Lalu bagaimana cara agar kuesioner bisa kembali? 

Jawab: 
Biasanya peneliti menyediakan amplop khusus atau lembar kuesioner tersebut tinggal dilipat dan dikirim ke alamat yang telah ditulis di amplop atau di lembar kuesioner tersebut. Biasanya, untuk menjamin pengembalian kuesioner, peneliti akan menyertakan perangko di amplop tersebut atau menggunakan perangko berlangganan dari kantor pos. 


Tanya: 
Apakah ada jaminan bahwa seluruh kuesioner yang dikirim tersebut akan kembali? 

Jawab: 
Tidak ada sama sekali. Pertama, alamat yang dikirimi mungkin tidak lagi merupakan alamat responden yang dituju. Kedua, responden, walau telah menjawab semua pertanyaan, merasa “malas” untuk datang ke kantor pos untuk mengirimkan kembali kuesioner yang telah dijawabnya tersebut. Ketiga, kuesioner tersebut bisa saja tidak pernah diisi oleh responden. 


Tanya: 
Lalu bagaimana caranya untuk mendorong orang mengembalikan kuesioner tersebut?

Jawab: 
Anda bisa menelepon atau mengirimkan surat susulan untuk menanyakan kuesioner anda. Selain untuk mengingatkannya, ini juga bisa untuk mengantisipasi kemungkinan anda mengirim ke alamat yang salah atau kuesioner tersebut tidak pernah ia terima karena alasan lain, sehingga anda dapat mengirimkannya kembali. 


Tanya: 
Sebagian orang khawatir bahwa walaupun kuesioner kembali, jawaban yang diberikan bisa saja tidak valid. Benarkah demikian? 

Jawab: 
Bukan jawabannya yang tidak valid, tapi bisa saja kuesioner tersebut dijawab oleh orang lain selain dari responden yang dituju. Misalnya, jika yang dituju adalah direktur utama, dia bisa saja memerintahkan salah seorang stafnya untuk menjawab pertanyaan namun tetap si direktur yang menandatangani kuesioner tersebut. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa dari alasan kesibukan atau kompetensinya yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Misalnya, seorang direktur yang berlatarbelakang non-keuangan ditanya dengan pertanyaan berbau keuangan. 


Tanya:
Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi masalah ini? 

Jawab: 
Selipkan satu atau dua pertanyaan yang tujuannya untuk memastikan bahwa yang menjawab memang adalah responden yang diinginkan. Misalnya untuk memastikan bahwa ia memang adalah direktur yang anda maksud, anda bisa mengajukan pertanyaan pribadi, misalnya riwayat karirnya di dalam daftar pertanyaan anda. Tanyakan pada ketika menjabat apa dan kapan ia merasa ia paling puas atau paling tidak puas. Anda nanti tinggal mencocokkan jawabannya dengan mengkonfirmasi pertanyaan itu ke dia atau ke orang lain atau ke database yang anda punya. Tapi perlu diingat agar anda harus menyelipkan pertanyaan itu sedemikian rupa sehingga orang yang menjawab tidak merasa sedang dikonfirmasi. 


Tanya: 
Lalu bagaimana dengan kuesioner yang dikirim secara elektronis? 

Jawab: 
Media pengiriman pos bisa diganti dengan media pengiriman melalui e-mail. Anda bisa merancang e-mail yang memungkinkan responden mengisi jawaban langsung di monitor, tanpa harus mencetaknya ke kertas, dan kemudian mengirimkan kembali ke pada anda secara elektronis. Cara ini lebih murah dan praktis karena anda bisa mengirim ke banyak responden dengan biaya murah. 


Tanya: 
Jika saya ingin membuat kuesioner, apa yang harus saya perhatikan dalam pengajuan pertanyaan? 

Jawab: 
Ada beberapa hal yang harus anda perhatikan. Pertama, pertanyaan bisa berupa pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Pada pertanyaan terbuka, responden punya kebebasan untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan keinginan mereka. Misalnya, “Apa yang anda keluhkan dengan pekerjaan anda sekarang”? Sedangkan pertanyaan tertutup hanya memberikan beberapa pilihan jawaban kepada responden. Misalnya, dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan di atas, anda berikan 10 hingga 15 pilihan jawaban yang mungkin berhubungan dengan keluhan mereka dan memberikan peringkat atas pilihan-pilihan mereka tersebut. Bentuk lain, bisa berupa kuesioner yang menggunakan skala nominal, ordinal, atau Likert. Kedua, jangan selalu mengajukan pertanyaan dengan kalimat positif atau negatif saja. Jika anda melakukannya, maka ada kecenderungan responden akan menjawab pada satu sisi jawaban saja. Misalnya, jika anda memberikan lima alternatif jawaban dari “(1) sangat tidak setuju” hingga “(5) sangat setuju”, dengan hanya bertanya dengan kalimat positif sejak awal dan diikuti dengan pertanyaan positif lain seperti, “Saya merasa bahwa saya puas dengan pekerjaan saya”, maka ada kecenderungan responden akan menjawab dengan pilihan yang sama dengan pertanyaan sebelumnya yang juga bernada positif. Namun, jika kemudian anda mengubah kalimat menjadi negatif, “Saya tidak merasa puas dengan pekerjaan saya”, maka kecenderungan untuk mengulang jawaban akan bisa dihindari. Setidaknya, dengan bertanya dalam bentuk kalimat yang berbeda, responden akan berhati-hati dalam menjawab. Ketiga, anda jangan sampai mengajukan dua pertanyaan dalam satu kalimat. Satu kalimat hanya untuk satu jawaban. Misalnya, “Apakah menurut anda manajer anda adalah orang yang kompeten dan anda puas dengan pekerjaan anda”? Alternatif jawaban dari pertanyaan di atas ada empat: manajer dinilai kompeten dan karyawan puas; manajer kompeten dan karyawan tidak puas; manajer tidak kompeten dan karyawan puas; dan manajer tidak kompeten dan karyawan tidak puas. Jadi, hindari untuk mengajukan pertanyaan seperti ini karena hanya akan merugikan anda karena apapun jawaban responden tidak akan bisa anda pahami tanpa bertanya kembali kepada responden. Keempat, jangan mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Misalnya, “Menurut anda perusahaan baik atau tidak”? Responden akan bingung untuk menjawab pertanyaan ini karena “baik atau tidaknya” perusahaan dalam hal apa: kondisi keuangan, perlakuan terhadap karyawan, kepatuhan terhadap hukum, ataukah terhadap hal lainnya? Kelima, jangan mengajukan pertanyaan yang membuat responden harus mengingat-ingat kembali memori yang telah lama. Misalnya, anda menanyakan, “Setelah sekian lama bekerja, apakah ada perbaikan sistem penggajian sejak pertama anda bekerja”? Jika ternyata, walau tanpa sadari, responden yang anda tanyai telah bekerja selama 30 tahun di perusahaan dan ia tidak bisa mengingat kondisi ketika ia pertama kali bekerja, maka jawaban yang ia berikan bisa bias. Keenam, jangan ajukan pertanyaan yang mengarahkan responden pada satu jawaban yang sebenarnya anda tuju juga. Misalnya, “Apakah anda tidak sadar bahwa pendapatan anda tidak disesuaikan dengan kinerja anda”? Jawaban atas pertanyaan seperti ini akan bias. Ketujuh, jangan ajukan pertanyaan yang memiliki kandungan yang memancing emosi atau yang mendorong responden tidak menjawab dengan rasional. Misalnya, “Sejauh mana menurut anda manajemen akan marah jika anda mogok bekerja”? Atau, “Jika perusahaan menurunkan gaji anda, apakah karyawan akan berdemo”? Kata-kata “marah”, “mogok”, “menurunkan gaji”, dan “berdemo” adalah kata-kata yang mengandung nilai emosi yang bisa menyebabkan responden menjawab pertanyaan dengan bias. Kedelapan, anda jangan mengajukan pertanyaan yang mendatang respon sosial. Misalnya, “Apakah menurut pegawai yang tua dipensiunkan saja”? Jawaban responden terhadap pertanyaan ini akan cenderung “Tidak” karena sebagian besar masyarakat tidak akan menerima pernyataan yang seperti itu karena usia karyawan tidak mesti mempengaruhi kinerja mereka. Kesembilan, perhatikan panjang kalimat anda. Jangan menyusun kalimat yang panjang yang membuat orang harus membaca lebih dari satu kali. Kali pendek lebih disukai oleh responden. 


Tanya: 
Selain kesembilan hal tersebut, apakah masih ada yang harus diperhatikan dalam penyusunan pertanyaan? 

Jawab: 
Jika anda ingin memperoleh jawaban “Ya” atau “Tidak”, anda harus memperhatikan contoh kalimat berikut: “Tidakkah anda pernah diberikan penghargaan atas prestasi anda menaikkan penjualan perusahaan tahun lalu”? Masalah timbul jika si responden tidak atau belum pernah diberi penghargaan oleh perusahaan atas kinerjanya tersebut. Ia akan ragu untuk memilih jawaban yang mana karena di dalam berbahasa Indonesia, anda sering tidak awas dengan masalah ini. karena di dalam bahasa Indonesia tanpa disadari ada dua gaya bahasa: resmi dan tutur. Yang berbahaya adalah jika gaya bahasa tutur yang mengambil peran dalam menjawab pertanyaan tersebut. Responden bisa saja menjawab (di dalam benaknya): “Ya, saya tidak pernah diberi penghargaan” dan kemudian ia memilih jawaban “Ya” ketika, sesuai dengan fakta, ia seharusnya menjawab, “Tidak, saya tidak pernah diberi penghargaan”. Jadi, anda harus berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan bernada negatif seperti itu. Jika anda harus menggunakan kalimat negatif, pastikan alternatif jawabannya tidak membingungkan responden dan anda sendiri. 


Tanya: 
Bagaimana dengan fisik kuesioner? Apa yang harus diperhatikan? 

Jawab: 
Pertama, jangan terlalu tebal karena anda bisa membuat responden bosan. Usahakan agar kuesioner itu tidak “melelahkan mata”. Anda bisa menambahkan gambar wajah Chernoff, alih-alih narasi (“sangat setuju” sampai dengan “sangat tidak setuju”) untuk kelompok responden tertentu ketika anda mengajukan pertanyaan. Kemudian, yang jangan juga lupa sapalah responden anda di halaman pertama dan yakinkan dia betapa pentingnya peran si responden di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan ucapkanlah terima-kasih anda pada akhir kuesioner.

for this post

Leave a Reply