Lampiran 1-Contoh alur pikir

By Rahmat Febrianto On Saturday, November 15, 2008 At 12:52 PM

Contoh alur pikir penelitian ini diambil dari penelitian Rahmat Febrianto dan Erna Widiastuty (2005) yang dipresentasikan di Simposium Nasional Akuntansi VIII di Solo, September 2005. Judul penelitian itu adalah: Tiga angka laba: Mana yang lebih direaksi oleh investor?


Tahap pertama:
Teori tentang pasar efisien mengatakan bahwa informasi yang memiliki kandungan akan direspon oleh penerima informasi tersebut. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa informasi laba adalah salah satu informasi keuangan yang direspon oleh pasar. (Fakta ini telah diketahui oleh kedua peneliti dari banyak penelitian sebelumnya. Hingga di sini belum ada area masalah yang perlu diteliti.)


Tahap kedua:
Informasi akuntansi, khususnya laba, disajikan dalam bentuk sebuah laporan, tidak terpisah atas komponen-komponen pembentuknya. Misalnya, laporan laba/rugi disajikan secara utuh, mulai dari informasi penjualan, biaya-biaya, sampai dengan nilai laba bersih. (Hingga di sini pun belum ada area masalah yang perlu diteliti. Yang baru terlihat hanyalah bahwa informasi disajikan dalam kuantitas yang banyak, tapi teori hanya mengatakan bahwa investor bereaksi terhadap satu informasi spesifik [laba] dari banyak informasi yang disajikan bersamaan dengan informasi spesifik tersebut.)


Tahap ketiga:
Kemudian kedua peneliti melakukan survei literatur untuk mencari area masalah sebenarnya. Dari hasil survei literatur diperoleh fakta lain bahwa kebanyakan penelitian yang menggunakan laba sebagai ukuran dari variabel informasi akuntansi hanya menyatakan bahwa laba yang digunakan adalah nilai laba operasi atau nilai laba per saham (EPS). Penggunaan laba operasi didasarkan pada logika bahwa laba tersebut lebih menggambarkan “operasi” dibandingkan dengan laba bersih yang dipengaruhi oleh angka dari item-item luar biasa. Literatur yang menggunakan nilai laba per saham (EPS) ternyata tidak menunjukkan secara khusus angka laba mana yang digunakan sebagai penyebut: laba operasi atau laba bersih. (Hingga di sini kedua peneliti sudah mempersempit area masalah. Dengan dasar bahwa informasi laba dibutuhkan oleh investor mereka mencari di literatur sebenarnya angka laba yang mana yang diinginkan oleh investor karena sebenarnya ada beberapa angka laba yang dilaporkan pada satu peristiwa yang sama. Literatur yang ada hanya bisa menunjukkan bahwa laba yang diasumsikan digunakan oleh investor adalah salah satu dari angka laba: laba operasi atau laba bersih.)


Tahap keempat:
Kedua penulis kemudian membaca dari literatur akuntansi manajemen dan akuntansi kos, bahwa ternyata kedua bidang studi tersebut secara khusus menyoroti komponen kos produksi barang. Pada sebuah perusahaan pemanufakturan, komponen kos produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung (buruh), dan biaya overhead pabrik adalah komponen biaya yang sangat terencana dan terkendali. Ketiga komponen biaya tersebut memiliki hubungan langsung dengan penciptaan pendapatan perusahaan. (Di sini kedua peneliti bisa mengkaitkan fakta ini dengan fakta-fakta sebelumnya. Ternyata laba operasi bukan satu-satunya laba yang “operasional”. Ada komponen laba yang lebih operasional, terkendali, dan terencana. Pertanyaan yang kemudian timbul setidaknya ada dua: (1) mengapa komponen laba kotor yang dihasilkan dari pengurangan nilai penjualan dengan kos barang terjual tidak pernah dijadikan proksi laba pada pengujian informasi akuntansi?; (2) angka laba mana yang lebih “informatif” bagi investor: laba operasi, laba bersih, atau laba kotor?)


Pada tahap keempat ini, penulis telah berhasil menentukan area masalah yang akan mereka teliti: memperoleh jawaban secara empiris angka laba mana yang dijadikan referensi oleh investor dalam berinvestasi di pasar modal. Setelah itu yang akan dilakukan oleh peneliti adalah merancang penelitian, memilih sampel, mengumpulkan data dan mengolahnya, menganalisis hasil, dan terakhir mengambil simpulan.

for this post

Leave a Reply